Tidak Mementingkan Komentar

2009 November 4
by reikira

Jadi tau ga ya, maaf sebelumnya, karena saya jarang-jarang update ini blog. Yah, mohon maklum, karena seperti yang bisa dilihat dalam judul di atas, saya sedang mengalami kesulitan untuk berpikir secara paralel, mengatur waktu, dan jadi convener di sebuah acara haha sok sibuk banget nih ceritanya.

Ah ya, sebelumnya, saya harus bilang kalo post ini nanti isinya curhatan, dan curhatannya agak ga jelas, jadi kalo mau tutup tab sekarang, dipersilakan.

Jadi intinya saya sedang bingung. Bingung karena harus memikirkan sebuah acara haha, dan sekaligus mikirin kompetisi gitu, kompetisi eyel-eyelan. Sama satunya lagi urusan pribadi haha.

Nah, kegejeannya, haha, saya kurang bisa memprioritaskan yang mana yang harus duluan. Tiap hari waktu pelajaran, saya tidur, karena rata-rata saya tidur tiap hari jam satu. Haha pamer. Dan yayaya tiap hari itu saya habiskan waktu empat belas jam di sekolah. Ahahahaha

Bener2 post yang jelek.

Indonesia dan Partisipasi

2009 October 8
by reikira

Jadi ceritanya saya baru saja selesai UTS nih, dan langsung mampir ke warnet gara-gara terganggu dengan satu jawaban. Jadi gini, soalnya essay sepuluh nomor. Dan pertanyaan nomor sepuluhlah yang mengganggu saya:
“Apakah menurut kamu budaya politik di Indonesia sudah menunjukkan budaya politik partisipan?”
Tapi saya punya jawaban (ya, jawaban yang saya tulis di lembar jawab) yang lebih mengganggu saya:
Sudah. Hal ini bisa dilihat dari jumlah partai politik yang cukup banyak, kegiatan parpol yang melibatkan warga yang cukup sering, serta antusiasme dari banyak warga sendiri.. -penjelasan lain nggak terlalu penting. Yang penting assertion di atas-”

Wah, ya. Saya jijik sendiri liat jawaban saya (hush!). Habis, kalo boleh jujur, saya pengen bilang tidak. Jadi, munafik banget gitu deh. Hahaha. Ehm, karena jujur setelah saya liat lagi jawaban saya, saya jadi pengen teriak gini: “Iya itu parpol, itu kegiatan jumlahnya banyak! Kuantitasnya banyak! Tapi liat kualitasnya dong!” ke diri saya sendiri. Hmmph (sigh).

Baiklah, mari kita perjelas. Indikator yang saya masukkan dalam jawaban saya itu kan ada 3: jumlah parpol yang banyak, jumlah kegiatan yang banyak, dan antusias dari jumlah warga yang cukup banyak. Haduh, kenapa saya bego banget ya?

Indikator 1: jumlah parpol yang cukup banyak.
kesalahan saya: ehm, emang iya jumlah parpol di Indonesia kan bejibun ya. Kalo ga salah waktu Pemilu kemaren ada 44 (maaf ya kalo salah kemaren belum ikut Pemilu sih). Well yah, pertanyaannya, seberapa berkualitaskah partai mereka? Dari 44 partai itu, yang saya kenal (dan tahu betul) kemampuan partai itu, setidaknya dilihat dari track record mereka, cuma sekitar 7. Yang lainnya mungkin partai-partai baru yang didirikan demi menyambut Pemilu (hmm… maaf no offense dan saya tidak bermaksud menggeneralisasi oke? oke aja deh). Yang didirikan dengan maksud untuk mendapat keuntungan gitu, karena siapa tahu partai itu beruntung. Hmmpffh… bukti konkretnya adalah: kalau memang dari 44 partai itu ada yang berkualitas, kenapa sampai sekarang saya (ya, tulisan ini memang subjektif! Namanya blog kan?) belum menemukan kontribusi dari partai-partai itu terhadap negara? Di internet lah, coba cari artikel tentang Partai A. Saya sudah praktekkan, dan hasilnya, saya cuma nemu website resminya, yang masih kosong melompong. Atau kalaupun ada yang sudah diisi, isinya cuma artikel bahwa mereka sudah kampanye di sini, di sana. Bahwa pemimpin mereka baru nyumbang uang beratus-ratus juta untuk anak jalanan di sini. Uh plis, maksud saya, harusnya tulis dong, proposal mereka untuk mensukseskan negara ini. Bukan visi-misi ya, proposal lengkap. Lengkap dengan rincian dana (haha gak deng, yang ini becanda).

Oke, indikator kedua: Jumlah kegiatan parpol yang banyak.
Kesalahan saya: kegiatannya itu kegiatan positif atau tidak? Mari kita cek: dari sumber-sumber saya (dari internet, berita TV, dan pengamatan langsung), saya dapat menarik kesimpulan bahwa semua kegiatan – yang saya bilang banyak itu – redundant pemirsa. Kebanyakan yang dimaksud kegiatan oleh para parpol itu adalah kampanye sambil menggelar konser dangdut atau campursari dengan mendatangkan bintang tamu si anu dan si inu yang seksi sambil bagi-bagi kaos dan doorprize. Ih wow, maksud saya, menyedihkan tidak sih, kalau kampanye parpol (yang menurut pelajaran PKn yang saya baca) yang seharusnya adalah sarana pendidikan politik dan sosialisasi politik, diisi dengan erotisme penyanyi dangdut (bukan berarti semua penyanyi dangdut erotis, tidak ada generalisasi oke?) dan euforia doorprize? Bisa-bisa kan rakyat justru dididik untuk berpikir bahwa politik itu sebenarnya seperti bisnis, harus iklan agar bisa untung. Hmmph hmmph.. kenapa acara yang diselenggarakan itu bukannya semacam debat gitu, atau dialog politik kalau gak bisa debat. Ketinggian buat rakyat? Hmm… apa itu namanya tidak merendahkan rakyat? Justru itu kan, masyarakat harus mulai diberi suguhan yang lebih berkualitas, seperti diskusi misalnya. Dan bukan untuk selamanya mereka dijejali tarian erotis atau kegiatan lain yang tidak berguna dan tidak mendidik.

Yah oke, lanjutkan

Indikator ketiga: antusiasme yang besar dari masyarakat
kesalahan saya: itu antusiasme murni karena memang cinta partai atau antusias pengen hadiah? Saya curiga opsi kedua lebih mewakili. Buktinya klise sih, coba anda cari orang-orang yang keliatannya aktivis – rajin keluar rumah dan kalo ditanya mau ke mana jawabnya pasti: kampanye – dan coba perhatikan baju yang dia pakai sehari-hari. Pastinya kaos parpol. Tapi perhatikan lagi, biasanya orang itu hari ini akan pakai baju parpol A, dan besoknya pakai parpol B. Itu wajar, saudara. Punya dua kaos parpol yang berselisih itu wajar saja, bahkan terlalu wajar. Rata-rata malah punya 3-4 kaos. Ayah saya juga, hehe. Tapi ayah saya sih bukan aktivis. Dan lagi, testimonial macam “Saya ini rakyat kecil, jadi saya pilih siapa aja mau, asal mereka kasih bukti nyata seperti bagi-bagi uang kayak gini” atau “Kami ini nggak tahu apa-apa soal politik lah, maklum orang kecil. Jadi kalau kami pilih parpol yang rajin kampanye ya wajarlah, wong kami tahunya cuma itu.”. Hiks, hiks, menyedihkan kan? Bahkan bisa-bisa bagi-bagi uang itu dianggap bukti nyata, kaya di atas itu. Pffiuh,, tapi kembali ke topik, intinya itu berarti antusiasme mereka bukanlah antusiasme untuk berpolitik! Antusiasme untuk jadi aktif di politik juga bukan. Bahkan antusiasme untuk sekedar tahu kondisi politik negara juga bukan. That’s it.

Kesimpulannya, sebenarnya Indonesia itu BELUM memiliki budaya politik partisipatif karena seperti yang anda tahu, dia punya banyak partai yang tidak berkualitas, punya kegiatan-kegiatan parpol yang bertentangan dengan tujuan dan nature dari parpol, dan juga karena tidak adanya antusiasme dari warga negaranya.

(seharusnya itu yang saya tulis di LJK saya tadi) *sigh*

Jadinya yah… saya sedang kesal sekali. Dan jadinya malah bisa ngetik kaya gini. Oh my God.. maaf, saya sudah tidak jujur terhadap diri saya sendiri dan juga tidak jujur dan mungkin juga saya sudah menyesatkan orang-orang yang kemungkinan membaca jawaban saya (itu bisa jadi teman-teman saya yang mencontek, atau guru PKn saya yang mengoreksi, bisa juga pengawas ujian yang kebetulan membaca jawaban saya setelah saya menumpuk LJK ke dia).

Ya Tuhan, ampunilah hambamu yang bodoh ini.

Aduh

2009 September 13
by reikira

Sebulan setengah hiatus.

Ternyata masih punya muka buat nongol di blog.

Yah gapapa ya? Mohon dimaafkan.

Belom bisa nulis yang rada bener.

Yah intinya sih,

Mau bilang SELAMAT IDUL FITRI, MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN (maap teriak-teriak)

Kalo ga bilang sekarang.

Nanti saya keburu hiatus lagi.

OK

Dah dah

Holiday or Holly Day

2009 June 30
by reikira

Mungkin sih judulnya bakalan nggak nyambung dengan isi post ini. Ahaha kayaknya bukan mungkin lagi tapi emang. Jadi ceritanya, liburan sudah dimulai dan saya senang! Haha, oh ya btw saya masuk IPA :) makasih atas doanya. Dua minggu ini kemungkinan besar saya nggak pergi kemana-mana sih. Selain sibuk di YESC (halah sok sibuk) juga ortu ga mau ngajakin liburan. Ahahahahaha. Makanya, utuk membunuh waktu, saya nonton film sebanyak-banyaknya. Nah, film pertama yang saya tonton adalah Q.E.D versi drama. Sebenarnya bukan film sih, tapi TV seri. Cuman saya kan nontonnya via DVD, 10 seri saya habiskan dalam 2 kali lihat. Haha, reviewnya kapan-kapan aja yah, sekarang masih males.

Habis Q.E.D, saya nonton The X-Files 2. Kalo ga salah judulnya I Want to Believe atau semacam itulah. Rating yang saya berikan 3/5. Hm, maaf. Saya suka Mulder & Scully tapi ide ceritanya menurut saya hmm, gak orisinil. Yang tentang operasi sambung leher itu – apa ya namanya – udah pernah ada di novel Fur Ubermorgen (ejaannya bener gak ya?). Penulisnya saya lupa siapa. Yang jelas tokoh utamanya namanya Paul Osborn sama Vera Monneray. Malah IMHO lebih seru novel itu. Haha maaf kalau ada yang kurang setuju. Just IMHO kok.

Film lain yang saya lihat itu film lama, Kingdom of Heaven dengan rating 4.5/5 karena pemeran utamanya adalah Orlando Bloom. Haha tapi dari segi cerita, visual effect, dan yang semacamnya juga top sih.

Yang terakhir tadi Ocean’s Thirteen. Kalau yang ini kayanya ga perlu direview ya. Udah pada tau sendiri kan. (Ahaha bilang aja males!)

Ya udah kalo gitu. Btw kalo ada yang tau tolong jawab di comment ya, siapa pemeran Himeko Enari (si queen dari klub detektif) di Q.E.D? Penasaran banget nyari di gugel gak ketemu2.

Memorizing Almamater…

2009 June 19
by reikira

Post ini didedikasikan untuk segenap civitas academica SMAN I Ponorogo, alumni, kakak-kakak kelas XII yang baru saja lulus, dan semua orang yang mencintai Smaza.
Satu tahun lalu, hari ini, saya sedang berjuang. Berjuang untuk bisa menjadi bagian dari SMAN I Ponorogo. Berjuang untuk bisa masuk ke sekolah itu, belajar di ruang kelasnya, diajar guru-gurunya, dan tentu saja, memakai jas biru almamaternya =). Berjuang untuk bisa berkata dengan bangga bahwa aku siswa smaza. Berjuang dengan belajar, belajar, dan belajar lagi. Untuk menghadapi tes masuk sekolah ini seminggu lagi. Itu setahun lalu.
Hari ini, tahun ini, UAS sudah selesai dan saya tidak ada remidi (weis, tumben…). KBM sudah tidak diadakan, jadi saya masuk sekolah jam delapan. Waktu saya sampai di depan gerbang, saya kaget juga. Ramai. Banyak anak SMP di halaman. Saya cari tulisan, oh ternyata pendaftaran untuk PSB sudah mulai dilaksanakan. Tiba-tiba saya kaget juga. Ternyata hampir dua belas bulan sudah saya jadi siswa sma. Wew, waktu berlalu cepat juga ya?
Saya jadi berpikir, wah, gimana ya rasanya jadi anak kelas XII? Harus berpisah dengan sekolah dan teman-teman dalam waktu yang sesingkat ini?
Saya jadi tergoda untuk membuat post ini. Setidaknya, untuk berbagi dengan orang-orang yang mencintai Ganesha, tentang sudut-sudut SMA Satu, sekalipun cuma foto. Buram lagi. Tapi setidaknya, ini adalah perwujudan cinta saya terhadap Smaza, sebelum tiba-tiba saya berpisah dengannya (Ahaa, sok imut gila =p)
Sebuah tulisan aneh untuk almamaterku.
SP_A9203

Kilasan hari-hari yang saya lalui di Smaza. Yang mestinya sih tidak jauh beda dengan hari-hari Anda semua.

Jalan Budi Utomo

Jalan Budi Utomo

Yang rumahnya ada di sebelah barat Smaza, mestinya familier dengan jalan ini. Karena tiap pagi pasti kalian lalui. Yang di sebelah kiri dan ada pagar birunya itulah Smaza. Yang di foto ini, bagian gerbangnya udah kelewatan, dan pagar yang kelihatan itu adalah pagar lapangan parkir. Kalau kita bawa motor, kita tidak boleh masuk lewat gerbang depan, tapi harus lewat gerbang parkir.
SP_A9180
Nah, dari gerbang parkir, kita akan masuk ke lapangan parkir. Yang di atas itulah lapangan parkir smaza. Luas gila, kan?

Familier dengan gambar ini?

Familier dengan gambar ini?

Nah, dari lapangan parkir, ada tiga alternatif jalan yang bisa dipilih untuk masuk ke area kelas: lewat depan, samping, atau belakang. Tanpa alasan yang jelas, saya biasanya lebih suka lewat depan. Yang di atas, adalah foto halaman depan smaza antara lapangan parkir dan gerbang depan. Yang dikasih atap, itu adalah tempat parkir guru. Di sampingnya ada jalan masuk, kan? Nah, kalau sudah lewat situ, Welcome to SMAZAPO.

Welcome to Smaza

Welcome to Smaza

Itu adalah jalan masuk ke Lapangan Utama. Yang di sebelah kanan itu Lab Kimia, kalau terus nanti ke kelas XI, dan kalau belok kiri, anda akan menjumpai pemandangan seperti di bawah ini.

SP_A9178
Nah, tiap hari, dari jalan masuk tadi, saya selalu belok ke kiri. Dan inilah pemandangan yang tersaji.

SP_A9191
Di sebelah kanan teras yang memanjang ini, ada Lapangan Utama. Familiar dengan lapangan ini?
SP_A9199

Di seberang lapangan itu, ada ruang-ruang kelas XI. Di sebelah kiri teras, ada ruangan-ruangan penting macam Ruang Kepsek, Ruang Wakasek, TU, Ruang Guru, Ruang Info, dan Perpustakaan. Tapi saya tidak berhenti di salah satu ruang-ruang itu. Saya terus berjalan sampai di sini.
SP_A9193
Ini adalah kelanjutan teras yang panjang tadi. Teras ini menuju ke ruang kelas X. Bangunan di kanan, adalah kelas XI S 3. Kaca di sisi kiri adalah mading YESC (English Club), ruang di sampingnya itu sekretariat YESC, dan pintu yang terbuka itu adalah Lab Bahasa. Hmm,, Lab Bahasa, mari kita tengok sebentar keadaannya.

Tempat bersarang wkwkwkwk

Tempat bersarang wkwkwkwk

Lab Bahasa adalah tempat kedua setelah kelas dimana saya paling banyak menghabiskan waktu. Ngapain? Hmm,,, internetan, makan, ngobrol. Ahaha, gak deng. Buat latian lah! Latian apa? Hm,,, ga jelas ah. Kita skip aja bagian ini. Nah, kembali ke teras yang tadi. Dari teras itu, karena saya anak kelas X-8, tepat di depan pintu Lab Bahasa, saya belok kanan.

SP_A9196
Itu dia kelas saya. Di ujung jalan =D

keren ya? huahahahaha

keren ya? huahahahaha

Kalo di klos-ap inilah jadinya.

Kelas yang 'bersih'. Hmmm...

Kelas yang 'bersih'. Hmmm...

Dan kalau masuk ke dalam kelas, inilah gambarnya. Sepi ya? Yah, soalnya gambar ini diambil bukan pada hari efektif belajar sih. Berantakan ya? Yah, kalau soal itu tolong dimaklumi =)

Dan perjalanan saya tiap pagi akan berakhir di sini. 
Saya telah menjalani rutinitas itu selama, kasarnya, sekitar sebelas bulan. Tapi saya benar-benar tidak menyangka sudah secepat itu. Selama ini, rutinitas itu sudah menjadi bagian hidup saya, dan anehnya saya tidak pernah merasa bosan. Tiap saat, selalu ada hal baru untuk dilihat, didengar, dan mungkin dikomentari di rute itu. Tapi sebelas bulan sudah berlalu, dan semoga saya naik kelas. Rute saya akan berubah, tentunya. Dari lapangan parkir, mungkin saya akan lewat jalan yang tengah untuk masuk ke lapangan utama. Dan kalau saya naik lagi ke kelas dua belas, mungkin saya akan lewat jalan belakang. Mungkin.
Anyway, mungkin tulisan ini aneh banget ya, ahaha. Tapi biar deh. Sekedar perwujudan rasa cinta pada sekolah, dan persembahan untuk kakak-kakak kelas yang aku cintai (ceileh).
Jadi kesimpulannya,,,
Saya sangat mencintai smaza dan doakan saya masuk IPA ya! Ahaha ga nyambung deh kayaknya.

P.S: Sebenarnya, masih banyak sudut-sudut penting yang tidak mendapat tempat disini. Kantin Bu So yang legendaris, kebun pisang dan mangga di belakang, lapangan yang sebelah barat, lapangan yang sebelah timur, kantin soto, kantin-kantin yang lain, gudang-gudang tersembunyi, sekret-sekret ekstra, toilet, dan kamar mandi (emang mananya yang penting?). Hm.. doakan aja saya nanti bisa bikin buat yang lain ya! (emang sapa yang pengen liat coba?)

C.M.B

2009 May 31
by reikira

Just wanna say,,,, saya adalah penggemar berat Motohiro Katou Sensei, ada yang belum tahu siapa beliau? Hm well, beliau adalah seorang mangaka, tepatnya beliau adalah penulis (atau penggambar?) dari Q.E.D, atau Quod Erat Demonstrandum, komik seri detektif gitu lah. Isinya tentang kasus-kasus kriminal (ada pembunuhan, pencurian, penculikan, kriminal pokoknya) yang dihadapi dan dipecahkan oleh So Toma, karakter utama komik ini, dengan dibantu sahabat ceweknya, Kana Mizuhara. Nah, saya suka komik ini, soalnya:

1. Saya emang suka detektif

2. Kasusnya simpel tapi keren, maksudnya ya cuma kasus gitu, gak pake unsur cerita-cerita aneh. Beda sama Meitantei Conan yang ceritanya, uhm, njelimet gitu kan.

3. So Toma itu lucu :)

Aduh postnya jadi melenceng ke Q.E.D deh. Jadi ya gara-gara saya suka banget sama Q.E.D, secara otomatis, saya juga suka sama pengarangnya, Motohiro Katou Sensei. Hm,,, dan sejak saat itu saya mulai mencari-cari nama itu kalau pergi ke TB. Hm,,, tapi so far so bad, karena sejauh itu saya cuma nemu nama itu di cover Q.E.D saja.

Tapi,,,

Awal tahun ini, saya menemukan sebuah komik yang di covernya ada nama Motohiro Katou.

Yap. Berarti, komik itu dibuat oleh Motohiro Katou Sensei! Judulnya C.M.B

Oke, saya emang telat taunya. Tapi maklumin lah,, Ponorogo gitu.

So, back to the topic, saya pun ambil komiknya, lalu saya pinjam, bawa pulang, dan baca di rumah.

Ternyata,,,, KEREN!

Motohiro Katou Sensei banget. Masih berhubungan dengan misteri-misteri gitu, kasusnya simpel, dan tokoh utamanya lucu :)

Tapi yang beda dari C.M.B itu, kok kesannya SOSIAL banget ya? Jadi gini, kalo di Q.E.D tokoh utamanya si So Toma yang kuliah di MIT dan ambil jurusan MATEMATIKA (which is sooo IPA), nah di C.M.B ini tokoh utamanya Shinra Sakaki yang jadi Kepala Museum Shinra which is sooo IPS (museum–>sejarah–>IPS).

Aduh, postingan ini mulai gak fokus.

Tapi waktu saya membaca C.M.B, saya merasa senang. Banyak pengetahuannya, banyak sejarahnya, dan saya suka sama sejarah kok.

Aduh aduh

Inti postingan ini sih: baca aja C.M.B, keren kok.

Ahaha, cuman nambah-nambahin isi blog kok, biar keliatan sering di-update gitu doang :mrgreen:

p.s.: Raga bikin blog dan gw rasa salah satu postingannya harus dihapus demi tercapainya kedamaian di muka bumi ini. Buset, bener-bener bikin gw malu.

Occam’s Razor dalam Debate

2009 May 14
by reikira

Dua post saya sebelumnya menyebut-nyebut tentang Occam’s Razor, dan kali ini saya ingin membahas soal itu. Hanya saja, bukan pembahasan secara general yang bakal saya poskan, kalo itu mah tinggal tanya wikipedia. Tapi tentu saja, bahasan Occam’s Razor ini akan saya sambung-sambungkan dengan (apalagi kalo bukan) debate! Yap, debate.
Tapi sebelumnya, apakah Occam’s Razor itu?
“If there are more than one theory to explain the same thing, choose the simplest.”
Sederhananya sih seperti itu. Atau kalau mau lebih sederhana lagi, ini:
“The simplest is the truest.”
Occam’s Razor menjelaskan bahwa kalau ada dua cara untuk mencapai tujuan, cara yang paling sederhanalah yang paling benar.

Lalu, apa hubungannya dengan debate?

Suatu kali saya diberi tahu seorang adju:
“You and your team have a big problem: all of you have a complicated think. You set your argument too high. At once it seemed perfect, you told about its further impact but when I analyzed it more, I even doubt that your argument is logic. Everything was just like a big lie. You had gone too far, child, and I don’t like it.”

Jadi, adjudicator ternyata tidak menyukai pikiran yang terlalu jauh, terlalu rumit, terlalu kompleks. Ruwet. Dan kebanyakan orang masih berpikir bahwa dalam membuat argumen, mereka harus membuatnya sesempurna mungkin. Sempurna, emang boleh. Tapi seringkali orang-orang membuat argument mereka jadi terlalu sempurna. Sehingga boleh jadi argument yang mereka tawarkan jadi aneh, jadi terlalu rumit. Dan akhirnya malah terkesan mengada-ada.

Lebih baik kita berpikir dengan cara yang lebih sederhana saja. Pikirkan sesuatu yang mudah, lalu jelaskan sehingga hal itu bisa terlihat bagus di depan juri. Keuntungannya ada banyak:
1.Kalian tidak perlu memaksa otak kalian berpikir terlalu keras, untuk sesuatu yang sebenarnya kalian sendiri belum paham maksudnya apa.
Sebuah argumen yang sederhana tidak akan menimbulkan banyak kesulitan waktu menjelaskannya. Argumen yang sederhana itu, bagi kalian akan mudah dimengerti, sehingga kalian bisa berada di tahap understanding the motion, dan kalau sudah, improvisasi, elaborasi, tentunya bukan lagi jadi masalah bagi anda, kecuali kalau anda punya masalah dengan Public Speaking.
Argumen yang sederhana bisa didapat dengan melihat sebuah tema (atawa motion) dan mencari argumen apa saja yang bisa dipake nanti. Kalau sudah, coba perhatikan list argumen yang didapat dan cari argumen yang paling simple, baru kemudian kembangkan argumen itu sehingga menjadi sempurna.
2.Adju kalian akan senang.
Adju memang harus dibuat senang. Itulah tugas kita. Kita harus meyakinkan si adju, bahwa kita tu sedang menghadapi masalah besar, dan kita ingin menyelesaikan masalah ini dengan mengajukan/menolak proposal yang diajukan tim proposition. Adju itu istilahnya sih, tinggal makan doang. Jadi kita harus berikan dia argumen yang sudah matang, yang sudah dielaborasi, sehingga sang juri di kursinya tidak perlu berpikir.
Enaknya lagi, dengan argumen yang simple, juri kalian bisa mengerti “Oh, ini toh maksud argumen tim ini…” dan yang semacam itulah, karena, FYI, kadang-kadang adjudicator itu lebih bodoh dari kamu, jadi, gak ada alasan lagi untuk tidak mencoba berpikir simpel.

Penerapan Occam’s Razor ini prakteknya sih susah emang. Bisa, tapi jarang ada yang bisa menjamin bahwa ini benar-benar Occam’s Razor seratus persen. Tapi dalam penggunaannya, meski belum 100%, itu lebih baik dari pada tidak punya sama sekali.

Iya gak?

Occam’s Razor!

Welcome Acer

2009 May 11
by reikira

Di post kemaren, gw bilang gw lagi nunggu netbook.

Sekarang netbooknya udah dateng! :D

Tapi ga kayak di gambar (Samsung NC 10 white), yang dateng malah ACER ASPIRE ONE 10″

But for me it’s enuff.

Thx God! X)

Gw punya satu sekarang! :)Gw punya satu sekarang! :)

Oh iya,, pengen ngepost soal Occam Razor, tp besok aja deh.

Ni make laptop Lab bahasa.

OK. Besok deh,,,!

Sedang Menunggu…

2009 April 25
by reikira
I wait him :)

I wait him :)

I wait him,,, :P

Btw, kenapa him?
Karena entah kenapa gw ngerasa netbook ini cowok.
Dan kenapa netbook?
Karena alasan gw: netbook lebih simpel dari notebook. Dan simpler is better.

Go Go Occam Razor !!

Gw Bosen

2009 April 22
by reikira

Gak semangat ngapa-ngapain. Males banget rasanya.
Bosen.
Di rumah pengen online, begitu onlen malah nggak tahu harus ngapain.
Gak ada ide buat posting.
Formulir AFS belon diisi.

Bosen.
Hidup ini membosankan yah?