Dan Aku Tak Akan Pernah Puas
Manusia adalah orang yang serakah. Tidak pernah puas atas segala sesuatu yang sudah dimilikinya. Sudah punya sepeda, pengen motor. Punya motor pengen mobil. Punya mobil pengen truk. Punya truk pengen bajaj. Ahaha, contohnya garing ya? Ini mah persis ceramahnya Pak Ustad masjid waktu Maulud kemaren!
Tapi memang manusia adalah orang yang serakah. Kalau manusia tidak serakah, maka tak akan ada pepatah-pepatah macam “Rumput tetangga selalu lebih hijau” dan “lumba-lumba tetangga selalu terlihat lebih lucu”. Aduh, mulai ngaco nih.
Serakah itu selalu diasosiasikan dengan sifat. Dan sifat yang diasosiasikan dengan serakah itu adalah sifat buruk (kok rasanya kalimatnya njelimet?). Kenapa sifat buruk? Nah, itulah pertanyaannya.
Sebagai seorang debater, bagi saya pertanyaan kenapa a.k.a why adalah pertanyaan yang menyebalkan. Karena kalau ada pertanyaan kenapa maka itu berarti kita harus menjawab karena. Dan karena itu berarti kita harus menjelaskan. Dan menjelaskan itu menyebalkan. Soalnya penjelasan itu harus rinci. Rinci itu panjang. Dan panjang itu menghabiskan waktu. Belum lagi, saya memang tidak terlalu suka menjelaskan. Dan satu alasan lagi, pertanyaan kenapa itu selalu berbuntut. Kenapa berbuntut? Karena kenapa memerlukan jawaban. Kenapa memerlukan jawaban? Karena itu adalah pertanyaan. Kenapa itu adalah pertanyaan? Ah, stop. Sudah mengerti maksudnya, kan?
Tapi, kenapa adalah teman baik saya, kalau saya jadi orang yang bertanya
. Duh, kok jadi ngomongin kenapa ya?
Jadi, kita balik ngomongin serakah lagi.
Serakah itu apa? Apakah itu sifat seseorang yang selalu ingin lebih. Lebih dari sekarang. Lebih dari semua orang. Lebih baik. Lebih cepat. Lebih keren. Lebih lucu. Kalau iya, apa dong indikator orang serakah itu? Orang yang selalu pengen punya apa yang orang lain punya? Orang yang gak suka kalo ada orang lain yang lebih hebat dari dia? Orang yang gak pernah puas terhadap hidupnya?
Well, kalo indikator ketiga diatas itu benar, berarti saya orang serakah. Karena saya seringkali merasa tidak puas dengan hidup saya. Tidak puas karena apa? Banyak hal. Contoh: saya gak puas karena nilai fisika saya 4, saya gak puas karena menurut saya, hidung saya bentuknya aneh. Saya gak puas karena gak bisa beli sepatu yang saya suka banget di Matahari karena harganya menyebalkan. Banyak. Banyak.
Berdosakah saya pada Tuhan? Pastinya. Seharusnya saya bersyukur atas segala yang telah Dia izinkan untuk saya punyai. Tapi selalu saja ketidakpuasan itu ada. Salahkah saya? Ya, salah. Kenapa salah? Aduh, jadi kenapa lagi….
Suatu ketika saya coba untuk puas dengan apa yang saya peroleh. Saya coba puas waktu diledek orang gara-gara hidung kegedean. Saya coba puas waktu sepatu di Matahari kemaren dibeli orang. Susah sih, tapi saya rela.
Tapi… (ya, ada tapinya) ada satu yang tidak saya relakan. Nilai fisika saya. 4. Nilai apaan tuh? OK. Saya coba puas. Maka waktu saya dipanggil guru dan ditanya pesan-kesan soal nilai saya itu (maksudnya ngasih hukuman), saya jawab:
“Saya puas kok bu dengan nilai ini.”
DHUUUUARR!
Seketika kaca-kaca kelas pecah. Lho, saya barusan berusaha untuk bersyukur tuh, tapi kenapa malah kiamat?
Oh, ternyata itu ledakan amarah guru saya. Saya dimarahi. Seorang pelajar tidak boleh puas dengan apa yang telah dicapainya. Orang yang baik akan terus mencari kepuasan, dengan berusaha lebih baik dari yang sebelumnya. Hingga akhirnya ia akan mencapai kepuasan itu. Kalau orang itu telah merasa puas, disitulah perjalanannya, atau usahanya berakhir. Dan itu tergantung si orang sih, kapan dia mau mengakhiri perjalanannya. Yang jelas, makin panjang perjalanannya, makin lama ia akan mendapat kepuasan, tapi hal yang ia dapatkan juga makin banyak.
Sekarang saya jadi bingung.
Kita harus bersyukur (puas dengan segala yang kita miliki) atau harus berusaha (jangan pernah puas dengan segala yang kita miliki)?
Saya nggak tahu. Juga nggak pengen tahu. Jujur, saya sendiri bingung dengan tulisan di atas. Loh, saya nulis sepanjang ini toh ternyata. Saya belum sepenuhnya kenal dengan diri saya sendiri. Yang saya tahu, saya ini memang sulit buat jadi puas. Yang saya tahu saya banyak dosa. Yang saya tahu saya bingung.
Tapi ya, tapi.
Saya rasa guru saya benar. Kadang rasa tidak-mudah-puas itu memang diperlukan. Atau mungkin selalu diperlukan?
Saya memang tak akan pernah puas.
PS: Meski begitu saya nggak seserakah itu, kok. Saya memang positif dengan indikator orang serakah nomor 3. Tapi yang no. 1 sama 2 enggak kok.
Indikator 1:
Orang yang selalu pengen punya apa yang orang lain punya
Saya nggak.
Orang yang gak suka kalo ada orang lain yang lebih hebat dari dia
Yang ini juga nggak.
Bukti yang mendukung akan saya lampirkan kemudian
PPS:
Aduh, billingnya udah 7rebu
oleh karena itu belajarlah untuk puas. BTW, PERTAMAX Bensin Solar Minyak tanah, elpiji.
belajarlah brsyukur..
dhit, ga pertamax, seenggaknya kduax…
pertamax masih musim ya? Kan BBM udah turun… (ga nyambung)
gapapa kok
itu tandanya kamu masih manusia
yang namanya manusia kan gak pernah puas
yay! theme-nya ngikutin jadi Solipsus! (sekarang dah ganti lagi jadi Dusk, sih, wa
)
serakah/tamak itu adalah sesuatu yang bisa u hilangkan dengan mengucap syukur selalu kepada Tuhan
wa juga tau kalo wa adalah manusia yang serakah, tapi karena wa mensyukuri segalanya, jadinya sekarang wa biasa-biasa aja
pasti sebagai manusia normal bakalan “iri” juga, tapi kalo kita tidak menindaklanjuti rasa iri itu, maka kita bisa terluput dari dosa
ehehe,, iyah nih. Kirain waktu liat di demo warnanya coklat bukan abu-abu. heheheh,,, ntar deh diganti.

well, tapi kalo buat urusan debate kayaknya kita ga boleh puas deh. ya ga?