Occam’s Razor dalam Debate
Dua post saya sebelumnya menyebut-nyebut tentang Occam’s Razor, dan kali ini saya ingin membahas soal itu. Hanya saja, bukan pembahasan secara general yang bakal saya poskan, kalo itu mah tinggal tanya wikipedia. Tapi tentu saja, bahasan Occam’s Razor ini akan saya sambung-sambungkan dengan (apalagi kalo bukan) debate! Yap, debate.
Tapi sebelumnya, apakah Occam’s Razor itu?
“If there are more than one theory to explain the same thing, choose the simplest.”
Sederhananya sih seperti itu. Atau kalau mau lebih sederhana lagi, ini:
“The simplest is the truest.”
Occam’s Razor menjelaskan bahwa kalau ada dua cara untuk mencapai tujuan, cara yang paling sederhanalah yang paling benar.
Lalu, apa hubungannya dengan debate?
Suatu kali saya diberi tahu seorang adju:
“You and your team have a big problem: all of you have a complicated think. You set your argument too high. At once it seemed perfect, you told about its further impact but when I analyzed it more, I even doubt that your argument is logic. Everything was just like a big lie. You had gone too far, child, and I don’t like it.”
Jadi, adjudicator ternyata tidak menyukai pikiran yang terlalu jauh, terlalu rumit, terlalu kompleks. Ruwet. Dan kebanyakan orang masih berpikir bahwa dalam membuat argumen, mereka harus membuatnya sesempurna mungkin. Sempurna, emang boleh. Tapi seringkali orang-orang membuat argument mereka jadi terlalu sempurna. Sehingga boleh jadi argument yang mereka tawarkan jadi aneh, jadi terlalu rumit. Dan akhirnya malah terkesan mengada-ada.
Lebih baik kita berpikir dengan cara yang lebih sederhana saja. Pikirkan sesuatu yang mudah, lalu jelaskan sehingga hal itu bisa terlihat bagus di depan juri. Keuntungannya ada banyak:
1.Kalian tidak perlu memaksa otak kalian berpikir terlalu keras, untuk sesuatu yang sebenarnya kalian sendiri belum paham maksudnya apa.
Sebuah argumen yang sederhana tidak akan menimbulkan banyak kesulitan waktu menjelaskannya. Argumen yang sederhana itu, bagi kalian akan mudah dimengerti, sehingga kalian bisa berada di tahap understanding the motion, dan kalau sudah, improvisasi, elaborasi, tentunya bukan lagi jadi masalah bagi anda, kecuali kalau anda punya masalah dengan Public Speaking.
Argumen yang sederhana bisa didapat dengan melihat sebuah tema (atawa motion) dan mencari argumen apa saja yang bisa dipake nanti. Kalau sudah, coba perhatikan list argumen yang didapat dan cari argumen yang paling simple, baru kemudian kembangkan argumen itu sehingga menjadi sempurna.
2.Adju kalian akan senang.
Adju memang harus dibuat senang. Itulah tugas kita. Kita harus meyakinkan si adju, bahwa kita tu sedang menghadapi masalah besar, dan kita ingin menyelesaikan masalah ini dengan mengajukan/menolak proposal yang diajukan tim proposition. Adju itu istilahnya sih, tinggal makan doang. Jadi kita harus berikan dia argumen yang sudah matang, yang sudah dielaborasi, sehingga sang juri di kursinya tidak perlu berpikir.
Enaknya lagi, dengan argumen yang simple, juri kalian bisa mengerti “Oh, ini toh maksud argumen tim ini…” dan yang semacam itulah, karena, FYI, kadang-kadang adjudicator itu lebih bodoh dari kamu, jadi, gak ada alasan lagi untuk tidak mencoba berpikir simpel.
Penerapan Occam’s Razor ini prakteknya sih susah emang. Bisa, tapi jarang ada yang bisa menjamin bahwa ini benar-benar Occam’s Razor seratus persen. Tapi dalam penggunaannya, meski belum 100%, itu lebih baik dari pada tidak punya sama sekali.
Iya gak?
Occam’s Razor!
Btul, klo tlalu ruwet or detail, gw jg jd mls nyimak. .
setuju, tapi lom tau cara compress argument ’sempurna’ jadi ’simple’
gimana caranya?
@ agel
itu juga yang dirasakan para adju, ya ga?
@ male
IMHO, yah, bukan gimana cara menyimpelkan argumen yang sempurna, tapi menyempurnakan argumen yg simpel. Gitu kan?
IMHO? apa, tuh? (sorry for being oldschool)
well, kalo wa, sih, biasanya yang pertama, bukan yang kedua. hehe
^
In My Humble Opinion
Gw jg biasa yg pertama sih, tapi makanya kan kita musti coba dikit2 yg kedua. Gitu ga sih?
beauty of simplicity…
simply the best.. *halah*
@kira
oh, baru tau
hmm, bener juga, tuh
harus coba