Indonesia dan Partisipasi
Jadi ceritanya saya baru saja selesai UTS nih, dan langsung mampir ke warnet gara-gara terganggu dengan satu jawaban. Jadi gini, soalnya essay sepuluh nomor. Dan pertanyaan nomor sepuluhlah yang mengganggu saya:
“Apakah menurut kamu budaya politik di Indonesia sudah menunjukkan budaya politik partisipan?”
Tapi saya punya jawaban (ya, jawaban yang saya tulis di lembar jawab) yang lebih mengganggu saya:
“Sudah. Hal ini bisa dilihat dari jumlah partai politik yang cukup banyak, kegiatan parpol yang melibatkan warga yang cukup sering, serta antusiasme dari banyak warga sendiri.. -penjelasan lain nggak terlalu penting. Yang penting assertion di atas-”
Wah, ya. Saya jijik sendiri liat jawaban saya (hush!). Habis, kalo boleh jujur, saya pengen bilang tidak. Jadi, munafik banget gitu deh. Hahaha. Ehm, karena jujur setelah saya liat lagi jawaban saya, saya jadi pengen teriak gini: “Iya itu parpol, itu kegiatan jumlahnya banyak! Kuantitasnya banyak! Tapi liat kualitasnya dong!” ke diri saya sendiri. Hmmph (sigh).
Baiklah, mari kita perjelas. Indikator yang saya masukkan dalam jawaban saya itu kan ada 3: jumlah parpol yang banyak, jumlah kegiatan yang banyak, dan antusias dari jumlah warga yang cukup banyak. Haduh, kenapa saya bego banget ya?
Indikator 1: jumlah parpol yang cukup banyak.
kesalahan saya: ehm, emang iya jumlah parpol di Indonesia kan bejibun ya. Kalo ga salah waktu Pemilu kemaren ada 44 (maaf ya kalo salah kemaren belum ikut Pemilu sih). Well yah, pertanyaannya, seberapa berkualitaskah partai mereka? Dari 44 partai itu, yang saya kenal (dan tahu betul) kemampuan partai itu, setidaknya dilihat dari track record mereka, cuma sekitar 7. Yang lainnya mungkin partai-partai baru yang didirikan demi menyambut Pemilu (hmm… maaf no offense dan saya tidak bermaksud menggeneralisasi oke? oke aja deh). Yang didirikan dengan maksud untuk mendapat keuntungan gitu, karena siapa tahu partai itu beruntung. Hmmpffh… bukti konkretnya adalah: kalau memang dari 44 partai itu ada yang berkualitas, kenapa sampai sekarang saya (ya, tulisan ini memang subjektif! Namanya blog kan?) belum menemukan kontribusi dari partai-partai itu terhadap negara? Di internet lah, coba cari artikel tentang Partai A. Saya sudah praktekkan, dan hasilnya, saya cuma nemu website resminya, yang masih kosong melompong. Atau kalaupun ada yang sudah diisi, isinya cuma artikel bahwa mereka sudah kampanye di sini, di sana. Bahwa pemimpin mereka baru nyumbang uang beratus-ratus juta untuk anak jalanan di sini. Uh plis, maksud saya, harusnya tulis dong, proposal mereka untuk mensukseskan negara ini. Bukan visi-misi ya, proposal lengkap. Lengkap dengan rincian dana (haha gak deng, yang ini becanda).
Oke, indikator kedua: Jumlah kegiatan parpol yang banyak.
Kesalahan saya: kegiatannya itu kegiatan positif atau tidak? Mari kita cek: dari sumber-sumber saya (dari internet, berita TV, dan pengamatan langsung), saya dapat menarik kesimpulan bahwa semua kegiatan – yang saya bilang banyak itu – redundant pemirsa. Kebanyakan yang dimaksud kegiatan oleh para parpol itu adalah kampanye sambil menggelar konser dangdut atau campursari dengan mendatangkan bintang tamu si anu dan si inu yang seksi sambil bagi-bagi kaos dan doorprize. Ih wow, maksud saya, menyedihkan tidak sih, kalau kampanye parpol (yang menurut pelajaran PKn yang saya baca) yang seharusnya adalah sarana pendidikan politik dan sosialisasi politik, diisi dengan erotisme penyanyi dangdut (bukan berarti semua penyanyi dangdut erotis, tidak ada generalisasi oke?) dan euforia doorprize? Bisa-bisa kan rakyat justru dididik untuk berpikir bahwa politik itu sebenarnya seperti bisnis, harus iklan agar bisa untung. Hmmph hmmph.. kenapa acara yang diselenggarakan itu bukannya semacam debat gitu, atau dialog politik kalau gak bisa debat. Ketinggian buat rakyat? Hmm… apa itu namanya tidak merendahkan rakyat? Justru itu kan, masyarakat harus mulai diberi suguhan yang lebih berkualitas, seperti diskusi misalnya. Dan bukan untuk selamanya mereka dijejali tarian erotis atau kegiatan lain yang tidak berguna dan tidak mendidik.
Yah oke, lanjutkan
Indikator ketiga: antusiasme yang besar dari masyarakat
kesalahan saya: itu antusiasme murni karena memang cinta partai atau antusias pengen hadiah? Saya curiga opsi kedua lebih mewakili. Buktinya klise sih, coba anda cari orang-orang yang keliatannya aktivis – rajin keluar rumah dan kalo ditanya mau ke mana jawabnya pasti: kampanye – dan coba perhatikan baju yang dia pakai sehari-hari. Pastinya kaos parpol. Tapi perhatikan lagi, biasanya orang itu hari ini akan pakai baju parpol A, dan besoknya pakai parpol B. Itu wajar, saudara. Punya dua kaos parpol yang berselisih itu wajar saja, bahkan terlalu wajar. Rata-rata malah punya 3-4 kaos. Ayah saya juga, hehe. Tapi ayah saya sih bukan aktivis. Dan lagi, testimonial macam “Saya ini rakyat kecil, jadi saya pilih siapa aja mau, asal mereka kasih bukti nyata seperti bagi-bagi uang kayak gini” atau “Kami ini nggak tahu apa-apa soal politik lah, maklum orang kecil. Jadi kalau kami pilih parpol yang rajin kampanye ya wajarlah, wong kami tahunya cuma itu.”. Hiks, hiks, menyedihkan kan? Bahkan bisa-bisa bagi-bagi uang itu dianggap bukti nyata, kaya di atas itu. Pffiuh,, tapi kembali ke topik, intinya itu berarti antusiasme mereka bukanlah antusiasme untuk berpolitik! Antusiasme untuk jadi aktif di politik juga bukan. Bahkan antusiasme untuk sekedar tahu kondisi politik negara juga bukan. That’s it.
Kesimpulannya, sebenarnya Indonesia itu BELUM memiliki budaya politik partisipatif karena seperti yang anda tahu, dia punya banyak partai yang tidak berkualitas, punya kegiatan-kegiatan parpol yang bertentangan dengan tujuan dan nature dari parpol, dan juga karena tidak adanya antusiasme dari warga negaranya.
(seharusnya itu yang saya tulis di LJK saya tadi) *sigh*
Jadinya yah… saya sedang kesal sekali. Dan jadinya malah bisa ngetik kaya gini. Oh my God.. maaf, saya sudah tidak jujur terhadap diri saya sendiri dan juga tidak jujur dan mungkin juga saya sudah menyesatkan orang-orang yang kemungkinan membaca jawaban saya (itu bisa jadi teman-teman saya yang mencontek, atau guru PKn saya yang mengoreksi, bisa juga pengawas ujian yang kebetulan membaca jawaban saya setelah saya menumpuk LJK ke dia).
Ya Tuhan, ampunilah hambamu yang bodoh ini.
lan kali klo ada pertanyaan sejenis bakal menyesatkan orang lagi nggak ya jawabannya
Calon politisi.
Semoga kelak idealismemu tetap terjaga nak.
Sebenarnya, IMO jawabannya memang “sudah” kok. Indikatornya tentu saja hanya yang ketiga itu: antusiasme masyarakat. Jelasnya, kita hanya tinggal menghitung saja berapa persen dari seluruh pemilik hak pilih, yang ikut pileg dan pilpres. Tak usah pedulikan mengerti tidaknya mereka pada politik dan kepartaian. Lalu coba bandingkan (kalo datanya bisa dicari) dengan persentase serupa dengan negara lain. AFAIK di banyak negara yang makmur, rakyatnya tidak terlalu peduli dengan kegiatan politik kok (padahal ngerti politik). CMIIW
ga gitu “in” kalo masalah politik bagi saya untuk saat ini
kalo ga ada masyarakat pendukung ya..ga bs berdiri dunk,,,
@ tama
semoga saja ada (biar jadi bahan post lagi haha becanda deng)
@ lambrtz
-hmm? emangnya saya idealis?
@ jensen99
ow, tp IMO juga sih ya kalo antusiasmenya cuma antusiasme untuk dapat hadiah, apa itu sudah bisa dibilang budaya partisipan? itu berarti kan kalo suatu saat parpol2 itu kampanye ga pake hadiah kan mereka jadi ga ikutan pemilu, berarti ga bisa dibilang budaya partisipan dong. tapi IMHO lho ya, CMIIW juga.
@ alpicola
berarti suatu saat nanti bisa in?
@ mel
ini orangnya sama nggak sama alpicola?
ya, tapi menurut saya bukan gitu caranya nyari pendukung kan? itu kan justru malah berpotensi memunculkan pendukung yang cuma mau nyari bonus. ntar malah merugikan partai itu sendiri kan? yah correct me if i’m wrong tapi.
ah, negaraku memang agak gimanaaaa gtu
halo, rei… atau kira…? *namamu siapa sih?*
jawabnya ambigu, antara SUDAH dan BELUM… SUDAH karena sebagian masyarakat sudah berpartisipasi menggunakan hak pilihnya, dan BELUM karena lebih banyak lagi yang jelas-jelas TIDAK MAU menggunakan hak pilihnya…
ugh um um um
tauk tuuuhh, kmaren wae p.mul menggebu2 crita tentang BELA NEGARA!!!
ciayooooooooooo