Skip to content

Bagaimana Cara Kita Menghargai Mereka?

August 15, 2010

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya

Kutipan di atas, adalah kutipan yang sudah sangat umum. Entah siapa yang pertama kali mencetuskan kalimat tersebut. Kutipan yang saya kenal dan saya hafal sejak kalimat itu muncul di buku paket Bahasa Indonesia kelas 5 SD terbitan Balai Pustaka. Dulu saya percaya-percaya saja, maklum masih SD, masih polos.

Lalu waktu SMP, saya mulai berpikir, kenapa untuk jadi bangsa yang besar harus menghargai pahlawan dulu? Saya tidak mengerti kenapa hanya dengan menghargai pahlawan – anggap caranya adalah dengan belajar tentang mereka, tahu riwayat mereka, dll – bisa membuat bangsa kita jadi bangsa yang besar? (waktu itu saya lumayan bingung juga maksudnya bangsa yang besar itu bangsa yang bagaimana). Bukan berarti saya tidak menghargai pahlawan. Saya menghargai dan bangga pada pahlawan itu, tapi alasannya adalah karena mereka telah berjuang keras memerdekakan bangsa Indonesia dulu. Saya sadar bahwa pahlawan memang harus dihargai atas pengorbanan mereka yang luar biasa dulu, tapi saya tetap belum mengerti apa hubungannya menghargai pahlawan dengan kebesaran suatu bangsa.

Lalu, pagi tadi saya menemukan artikel tentang para pahlawan sains ini

Indonesia, yang saat ini bukan berada dalam masa kejayaannya, yang tengah mengalami banyak masalah terkait tabung gas yang tidak aman, moral para public figure idola remaja, dan proses pengadilan seseorang yang dituduh teroris, ternyata punya segepok penemuan di bidang teknologi sains yang membuat saya sangat bangga saat membacanya.
Bangga sekaligus heran, karena kok bisa ya selama ini saya tidak pernah tahu tentang hal ini?
Silakan cek daftar penemuannya:
1. Th. 1954 – Sikumbang X-01 – Pesawat propeller dengan kecepatan 260km/jam.
2. Th. 1955 – Penemuan teori 23 kromosom pada manusia oleh Dr. Joe Hin Tjio, ahli cytogenetics asal Indonesia
3. Th. 1961 – Penemuan pondasi cakar ayam oleh Prof. Dr. Ir. Sedijatmo
4. Th. 1979 – Penemuan metode pemadaman kebakaran oleh Randall Hartolaksono
5. Th. 1988 – Penemuan metode kromatografi tercepat oleh Prof. Dr. Rahmiana Zein
6. Th. 2000 – Penemuan teknik pengeringan sperma oleh Mulyono
7. Th. 2006 – Pemindai 4 dimensi oleh Dr Warsito Purwo Taruno

Yang di atas hanya sebagian yang saya masukkan. Masih ada 3-4 penemuan lain yang tidak saya cantumkan, dan saya yakin ratusan penemuan lain yang belum dicantumkan oleh link yang saya beri di atas. Lebih baik Anda langsung kunjungi link di atas, karena saya kurang cerdas dalam menguraikan kehebatan penemuan beliau-beliau di atas. Sekali lagi, penemuan mereka di atas, jauh lebih hebat dari sekedar judul tiap penemuan yang saya berikan.

Yang jelas, Anda harus tahu dan bangga bahwa anak negeri pun bisa menciptakan teknologi sains yang menakjubkan.

Lalu, saya baca artikel bagian 4-nya, dan saya menemukan kalimat ini:

Dari bangsa ini, sudah banyak yang memberikan kontribusinya masing-masing pada dunia keilmuan yang digelutinya. Sayangnya bangsa kita belum terbiasa untuk menghargai hasil karya keilmuan mereka

Saya jadi senyum-senyum sendiri (merasa tersindir). Karena seperti yang saya bilang, saya bahkan tidak tahu hubungan antara menghargai para pahlawan dengan kebesaran bangsa. Tapi setelah saya baca link tersebut, saya sadar.

Bahwa yang disebut pahlawan bukan hanya mereka yang sudah meninggal karena berjuang memerdekakan bangsa kita dulu. Bahwa para anak-anak bangsa yang mampu menciptakan temuan-temuan hebat di atas, adalah juga pahlawan. Lalu saya sadar arti kata-kata ‘Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya’.

Karena saya merasakannya sekarang. Negeri kita, Indonesia, dengan orang-orang seperti saya, selama ini kurang menghargai beliau para pahlawan masa kini. Mereka punya ide yang hebat, namun kita orang-orang Indonesia menolak memproses ide mereka dengan alasan klasik tak punya biaya dan bahwa ide mereka tidak laku dijual. Mereka mengalah, dan akhirnya mereka pergi ke luar negeri untuk memproses ide mereka. Ide mereka jadi, mereka kembali ke kita, menawarkan ide yang telah diproses tersebut pada kita, namun lagi-lagi kita menolak, alasannya tak punya modal untuk mengembangkan. Akhirnya terpaksa, olahan ide tersebut mereka tawarkan ke luar negeri, dan mereka disambut baik di sana. Ide luar biasa mereka dibeli orang luar, dan dengan ide tersebut negara-negara lain mampu mengembangkan teknologi yang merajai pasar dunia, yang akhirnya membesarkan negara mereka.

Teknologi pengeringan sperma, teknologi pemindai 4 dimensi, 4G, semuanya adalah hasil karya anak bangsa Indonesia. Tapi karena kita tidak menghargai semua itu, hak paten keseluruhan penemuan itu dibeli oleh perusahaan asing, hingga akhirnya merekalah yang mencicipi keringat pahlawan-pahlawan kita itu.

Saya sadar, kita tidak menghargai para pahlawan kita, dan bangsa kita tidak menjadi lebih besar karenanya.

Lalu, saat ini, mulai sekarang, saya ingin lebih menghargai mereka. Meskipun yang bisa saya lakukan sebagai pelajar SMA yang bodoh dan tidak tahu apa-apa ini hanyalah dengan menulis post ini di blog saya.

Karena setidaknya, saya ingin siapapun yang membaca blog ini, tahu, bangga, dan akhirnya bisa menghargai, para pahlawan-pahlawan bangsa masa kini seperti beliau-beliau di atas.

Kepada para pejuang dan pahlawan Indonesia, baik yang dulu maupun sekarang, terima kasih atas kerja keras kalian.

Dirgahayu Indonesiaku.

2 Comments leave one →
  1. August 24, 2010 4:58 pm

    kita kurang menghargai ma pahlawan dahulu kala.. ckckck

    knjungan perdana stelah hiatus

  2. August 30, 2010 1:57 am

    Iya, bukan cuma pahlawan dulu, tapi juga pahlawan sekarang.

    kunjungan pertama? oh ya? waw, thanks *feel honoured*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.